Kolaborasi :+62 888-888-6666
Stekom Logo
International Webinar 2022 -  Get to know the beauty of diverse culture between countries – Part 21

International Webinar 2022 - Get to know the beauty of diverse culture between countries – Part 21

Webinar International

Kembali ke Berita
Webinar International
Selasa, 31 Januari 2023
Priyadi, S.Kom, M.Kom
0 Dilihat

Akademisi Indonesia menjelaskan tentang makanan tradisi karapan sapi di Madura dalam webinar internasional. Bagi masyarakat Madura, Karapan Sapi bukan sekedar kegiatan pacuan sapi dalam upacara adat biasa, melainkan untuk mengangkat harkat dan martabat orang Madura. Oleh karena itu, sapi yang digunakan tidak sembarangan. Sapi yang digunakan untuk karapan sapi diberi pijatan dan makanan terbaik.


Selama Karapan Sapi, wisatawan tidak hanya melihat "lomba". Namun, Anda juga akan melihat ritual arak sapi di sekitar arena pacuan kuda yang diiringi musik saronen; alat musik Madura. Setelah itu, perlombaan sapi dimulai. Sapi-sapi peserta karapan akan bertanding di nomor 180-an.


Awal mula kerapan sapi dilatarbelakangi oleh tanah Madura yang kurang subur untuk lahan pertanian, sebagai gantinya orang-orang Madura mengalihkan mata pencahariannya sebagai nelayan untuk daerah pesisir dan beternak sapi yang sekaligus digunakan untuk bertani khususnya dalam membajak sawah atau ladang.


Suatu Ketika seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal dengan masyarakat Madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi. Maksud awal diadakannya Karapan Sapi adalah untuk memperoleh sapi-sapi yang kuat untuk membajak sawah. Orang Madura memelihara sapi dan menggarapnya di sawah-sawah mereka sesegera mungkin. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi karapan sapi. Karapan sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Karapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.


Pelaksanaan Karapan Sapi dibagi dalam empat babak, yaitu: babak pertama, seluruh sapi diadu kecepatannya dalam dua pasang untuk memisahkan kelompok menang dan kelompok kalah. Pada babak ini semua sapi yang menang maupun yang kalah dapat bertanding lagi sesuai dengan kelompoknya.


Babak kedua atau babak pemilihan kembali, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali, demikian sama halnya dengan sapi-sapi di kelompok kalah, dan pada babak ini semua pasangan dari kelompok menang dan kalah tidak boleh bertanding kembali kecuali beberapa pasang sapi yang menempati kemenangan urutan teratas di masing-masing kelompok.


Babak ke tiga atau semifinal. Pada babak ini masing-masing sapi yang menang pada masing-masing kelompok diadu kembali untuk menentukan tiga pasang sapi pemenang dan tiga sapi dari kelompok kalah. Pada babak keempat atau babak final, diadakan untuk menentukan juara I, II, dan III dari kelompok kalah.


Namun demikian, karapan sapi dikritik berbagai pihak seperti Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah daerah di Madura karena tradisi kekerasan rekeng yang dilakukan pemilik sapi. MUI Pamekasan sudah memfatwakan haram mengenai tradisi rekeng karena dinilai menyakiti sapi, dan Gubernur Jawa Timur melalui Instruksi Gubernur sudah menyatakan pelarangan tradisi rekeng. Namun tradisi ini masih berlanjut di kalangan pelaku karapan sapi.


Materi diatas disampaikan oleh presentator dari Indonesia dalam webinar internasional yang diadakan Universitas STEKOM bekerjasama dengan Universitas dari Mexico, Ukraina, Ethiopia dan berbagai pihak lainnya. Nama presentator tersebut adalah Ahmad Zaenuri, M.Si yang merupakan seorang dosen sekaligus ketua program studi kewirausahaan di Universitas STEKOM. Judul presentasi yang dia sampaikan adalah "Introduce the culture, culinary, tourist attractions Of Indonesia As A Nation’s  Economic asset".


Kegiatan webinar internasional tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan komitmen Universitas STEKOM untuk memperbanyak berbagai kegiatan Internasional. Hal itu dilakukan dalam rangka mewujudkan visi untuk menjadi Universitas berkelas Internasional. Berbagai kegiatan Internasional yang dilaksanakan Universitas STEKOM terus berjalan dari tahun ke tahun. Ada kegiatan internasional yang bersifat berkelanjutan dan ada juga beberapa kegiatan internasional yang tidak berkelanjutan. Semua jenis kegiatan internasional diakomodasi dan diatur oleh departemen Internasional Universitas STEKOM.