Perkembangan teknologi informasi saat ini sangat membantu dalam bisnis perusahaan. Namun demikian kalau kita tidak paham tipe teknologi yang dibutuhkan bisa saja kita akan salah memilih teknologi. Khususnya dalam bidang pengambilan keputusan untuk perusahaan terdapat salah satu produk teknologi informasi yang sangat membantu, yaitu sistem pendukung keputusan.
Usaha universitas STEKOM untuk memiliki jangkauan global diantaranya dengan mengadakan webinar dalam skala internasional. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah webinar internasional yang diadakan oleh Universitas STEKOM yang salah satu narasumbernya adalah seorang profesor dari Amerika Serikat. Narasumber tersebut adalah Kaushik Dutta yang merupakan seorang Professor dan School Director di Universitas Florida Selatan. Profesor Dutta dalam presentasinya menyampaikan materi tentang sistem pendukung keputusan yang merupakan produk IT yang sangat berguna dalam bisnis perusahaan.
Materi yang disampaikan oleh profesor Dutta meliputi Framework, Applications for Business, Techniques, dan Infrastructure. Karena materi yang disampaikan cukup panjang, artikel berita yang membahas tentang presentasi Profesor Dutta kita bagi menjadi beberapa bagian. Saat ini kita memasuki part ke 7.1. Jika pembaca ingin tahu presentasi sebelumnya, silahkan lihat beberapa part sebelumnya pada judul artikel yang sama.
Bersambung dari part sebelum, selanjutnya Profesor Dutta menjelaskan tentang macam-macam database yang bisa digunakan dalam pengembangan machine learning. Pofesor Dutta membagi kategori basis data menjadi dua pengelompokan dalam pembahasannya. Kelompok basis data tersebut adalah basis data tradisional yang menggunakan kondep relasional dan basis data modern yang menggunakan konsep non-relasional / non-sql.
Diantara jenis basis data relasional adalah MySQL. MySQL adalah sistem manajemen database relasional (RDBMS) open-source berbasis SQL yang bekerja dengan model client-server. Kalau DBMS adalah sistem manajemen database secara umum, RDBMS merupakan software pengelolaan database berdasarkan model relasional.
Pemanfaatan MySQL kebanyakan adalah untuk data warehousing (gudang data), yaitu pengumpulan data dari berbagai sumber, untuk e-commerce, maupun aplikasi logging. Pengembang pertama MySQL adalah MySQL AB, sebuah perusahaan asal Swedia, yang memulai perjalanannya di tahun 1994. Hak kepemilikan MySQL kemudian diambil secara menyeluruh oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat, Sun Microsystems, ketika mereka membeli MySQL AB pada tahun 2008.
Di tahun 2010, Oracle yang adalah salah satu perusahaan teknologi terbesar di Amerika Serikat mengakuisisi Sun Microsystems. Sejak saat itu, MySQL sepenuhnya dimiliki oleh Oracle.
MySQL merupakan salah satu nama brand terpopuler dari software RDBMS yang menerapkan model client-server. Lalu, bagaimana client dan server berkomunikasi di dalam ruang lingkup RDBMS?
Jadi, baik client maupun server, keduanya menggunakan bahasa spesifik domain – Structured Query Language (SQL). Jika Anda pernah melihat atau membaca beberapa nama yang dikombinasikan dengan SQL, misalnya PostgreSQL dan Microsoft SQL, maka server tersebut biasanya menggunakan syntax SQL.
Walaupun terkadang ditulis dalam bahasa pemrograman yang lain, software RDBMS selalu menggunakan SQL sebagai bahasa utama untuk berinteraksi dengan database. MySQL sendiri ditulis dalam C dan C++.
Pada awal tahun 1970-an, seorang ahli komputer, Ted Codd, mengembangkan SQL dengan IBM berbasis model relasional. Pada tahun 1974, SQL mulai banyak digunakan dan dengan cepat menggantikan posisi bahasa yang sudah outdated, yakni ISAM dan VISAM.
Penggambaran umumnya seperti password atau kode WordPress. Anda memasukkan password atau kode tersebut ke sistem untuk mendapatkan akses agar bisa login ke dashboard. Dalam hal ini, SQL statement menginstruksikan server untuk menjalankan operasi tertentu yang dapat dijelaskan seperti berikut :
- Data query: meminta informasi yang spesifik dari database yang sudah ada.
- Manipulasi data: menambahkan, menghapus, mengubah, menyortir, melakukan operasi lainnya untuk memodifikasi data, value, atau visual.
- Identitas data (data identity): menentukan tipe data, misalnya mengubah data numerik menjadi data integer. Selain itu, juga menentukan schema atau hubungan dari masing-masing tabel yang ada di database.
- Data access control: menyediakan metode keamanan untuk melindungi data, termasuk dalam menentukan siapa yang boleh melihat atau menggunakan informasi yang tersimpan di database.
Oracle sendiri sebenarnya juga merupakan produsen database yang memiliki nama yang sama dengan nama perusahaannya. Keduanya sama-sama menggunakan konsep database relasional. Namun pada produk oracle, semua produknya berbayar.
Profesor dutta kemudian membahas tentang permasalahan pada database relasional. Diantaranya adalah teknologi pengelompokannya yang lemah. Database relasional juga tidak bisa menskala secara horizontal, contohnya jika menambahkan 1 node lagi ke satu server database instance MySQL tidak membuat kinerja dua kali lipat. Format data ketat pada database relasional juga hanya cocok untuk data terstruktur saja, sedangkan data yang tidak terstruktur akan sulit dikelola dengan sistem database relasional.
Konsistensi yang ketat dalam database relasional akan menyebabkan jika ingin menambahkan overhead ke sistem basis data membuat penskalaan linier tidak mungkin dicapai. Padahal dalam kondisi nyata data, seringkali datanya tidak selalu sama strukturnya. Hal tersebut akan mempersulit berbagai algoritma machine learning jika datanya dikelola menggunakan basis data relasional.

Belajar Keputusan Berbasis Data untuk Manajer di Perusahaan Gaya Baru bersama Profesor Dutta dari Amerika Serikat Part 7.1
Webinar International
Back to News
Webinar International
Thursday, November 3, 2022
Priyadi, S.Kom, M.Kom
0 Views