Webinar internasional "culture exchange" yang diadakan Universitas STEKOM pada hari ke dua terus berlanjut. Pembicara dari berbagai Universitas di seluruh dunia secara bergantian memberikan penjelasan yang menarik mengenai tradisi popuper dari negaranya masing-masing. Berbagai kemenarikan terus dihadirkan dari berbagai pembicara yang mendapatkan kesempatan. Pembicara menarik berikutnya adalah nabbaale hanifah yang berasal business-accounting and finance di Bugema University Kampala di negara Uganda. Namun sebelum mengenal lebih jauh mengenai budaya populer Uganda, ada baiknya kita mengenal Bugema University Kampala yang ada di Uganda.
Bugema University (BMU) adalah universitas swasta, pendidikan bersama di Uganda yang berafiliasi dengan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Ini adalah bagian dari sistem pendidikan Masehi Advent Hari Ketujuh, sistem sekolah Kristen terbesar kedua di dunia.
Universitas ini berada di atas tanah seluas 640 acre (1,00 sq mi), di sub-county Kalagala, county Bamunanika, Distrik Luweero di Wilayah Tengah Uganda. Kampus utama berjarak sekitar 33 kilometer (21 mil), melalui jalan darat, timur laut Kampala, ibu kota Uganda dan kota terbesar. Jaraknya sekitar 18,1 kilometer (11 mil), melalui jalan darat, di selatan kota Ziroobwe, di Jalan Gayaza–Ziroobwe.
Presentasi awal Hanifah, menjelaskan tentang kondisi negara Uganda secara umum. Dalam penjelasannya dia menyebutkan bawah “Uganda terkurung daratan Berbatasan dengan Kenya, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Tanzania, dan Rwanda. Uganda, sekarang berada di peringkat ketiga di Afrika dalam hal musik dan hiburan. Uganda adalah rumah bagi lebih dari 65 kelompok etnis dan suku yang berbeda, dan mereka membentuk dasar dari semuanya.”
Selajutnya hanifah menjelaskan tentang sejarah singkat uganda. Sejarah Uganda terdiri dari sejarah orang-orang yang mendiami wilayah Uganda saat ini sebelum berdirinya republik Uganda, dan sejarah negara setelah didirikan. Bukti dari era paleolitik menunjukkan bahwa manusia telah menghuni uganda setidaknya selama 50.000 tahun. Hutan uganda secara bertahap dibuka untuk pertanian oleh orang-orang yang mungkin berbicara bahasa sudani tengah.
Pada tahun 1894, uganda menjadi protektorat kerajaan inggris, dan pada tahun 1962 kerajaan inggris memberikan kemerdekaan kepada uganda dan menetapkan sir edward muteesa walugembe menjadi presiden pertama uganda dan Kabaka. Kemudian dari Buganda. Idd amin menggulingkan sir apollo milton obote untuk menjadi penguasa Uganda pada tahun 1971. Posisi tersebut ia duduki selama delapan tahun sampai ia digulingkan pada tahun 1979 sebagai akibat dari perang Uganda-Tanzania. Setelah serangkaian pemimpin lain sejak jatuhnya amin, presiden yoweri kaguta museveni berkuasa pada tahun 1986 dan telah memimpin Uganda hingga saat ini.
Presentasi selanjutnya, Hanifah menjelaskan tentang kota Mbarara. Kota Mbarara adalah sebuah kota di Wilayah Barat Uganda dan kota terbesar kedua di Uganda setelah Kampala. Kota ini dibagi menjadi 6 borough Divisi Kakoba, Divisi Kamukuzi, Divisi Nyamitanga, Divisi Biharwe, Divisi Kakiika, Divisi Nyakayojo. Ini adalah pusat komersial utama sebagian besar distrik barat daya Uganda dan lokasi kantor pusat distrik. Pada Mei 2019, kabinet Uganda memberikan status kota kepada Mbarara, yang dimulai pada 1 Juli 2020.
Demografi kota ini pada tahun 2002, sensus nasional memperkirakan populasi kota di 69.400. Biro Statistik Uganda (UBOS) memperkirakan populasi 82.000 pada tahun 2010. Pada tahun 2011, UBOS memperkirakan populasi pertengahan tahun di 83.700. Pada bulan Agustus 2014, sensus penduduk nasional menempatkan populasi pada 195.013.
Iklim kota ini antara bulan terkering dan terbasah, perbedaan curah hujannya adalah 94 mm | 4 inci. Variasi suhu tahunan sekitar 2.4 °C | 4.3 °F. Bulan dengan kelembaban relatif tertinggi adalah November (76,93 %). Bulan dengan kelembaban relatif terendah adalah Juli (53,76 %). Bulan dengan jumlah hari hujan terbanyak adalah bulan Oktober (22,37 hari). Bulan dengan jumlah hari hujan terendah adalah bulan Juli (3,67 hari). Mbarara berada di tengah-tengah dan musim panas sangat mudah untuk didefinisikan.
Selanjutnaya hanifah menjelaskan tentang suku dan bahasa di Uganda. Uganda memiliki banyak suku yang berbeda di antaranya suku Baganda mendominasi sebesar 16%, Basoga 5% dan suku-suku lain mengikuti bahasa Tribal. Tiga rumpun bahasa asli utama adalah bantu, sudan tengah, dan nilotik. Swahili dan Luganda juga digunakan secara luas. Agama-agama utama yang dianuk masyarakat Uganda adalah Kristen, Islam, dan lainnya.
Selanjutnya Hanifah memberikan penjelasan tentang pengetahuan umum mengenai budaya dan budaya pop. Menurutnya, budaya adalah sistem pengetahuan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang relatif besar.Sedangkan budaya pop umumnya diakui oleh anggota masyarakat sebagai seperangkat praktik, kepercayaan, dan objek yang dominan atau lazim dalam masyarakat pada titik waktu tertentu.
Presentasi selanjutnya dari Hanifah adalah tentang musik. Suku Baganda adalah suku dengan musik paling bersemangat di negara ini, telah menentukan apa yang membentuk budaya dan musik Uganda selama dua abad terakhir. Musik baganda adalah musik rakyat yang merupakan salah satu genre musik yang paling menarik dan menakjubkan di Uganda. Ini adalah musik tradisional masyarakat Baganda. Sebagian besar mereka tinggal di bagian tengah Uganda dan mereka adalah kelompok etnis terbesar. Musik tradisional ini sangat didasarkan pada berbagai jenis drum dan perkusi. Selain bagian berirama, gambang Akadinda, kecapi Ennanga, kecapi Etongoli dan lamellofon Kadongo digunakan dalam jenis musik rakyat ini. Tangga nada musiknya hampir pentatonik.
Adapun Genre musik lainnya ada Kidandali. Kidandali adalah genre musik yang saat ini bisa dibilang genre paling populer dalam permusikan di Uganda. Yang lainya ada Lantai dansa, Hip Hop, Injil, Jazz, R&B.
Penjelasan Hanifah dilanjutkan tentang tarian di Uganda. Masing-masing suku memiliki tarian dan lagu tradisional yang luar biasa yang membedakannya. Ada puluhan tarian tradisional menarik yang bisa Anda nikmati saat bersafari budaya di Uganda. Diantaranya adalah Tarian Agagwara dibawakan oleh alur di timur laut Uganda. Lalu ada Tari Bakisimba yang merupakan tarian budaya tradisional yang dibawakan oleh baganda dari wilayah tengah Uganda. Lalu ada juga Tari Bwola, namun sayang, Hanifah tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tarian ini.Selanjutnya adalah Tarian Bwola yang merupakan tarian kerajaan yang menarik yang dilakukan oleh suku Acholi-Luo di Uganda Utara dan selalu dibawakan oleh kurang dari lima puluh peserta. Di masa lalu, tarian ini dilakukan untuk memperingati penobatan Raja baru.
Selanjutanya hanifah menjelaskan tentang budaya drama di Uganda. Menurut penjelasannya “The Ebonies” memimpin perkembangan drama populer di negara ini. Produksi drama dilakukan melalui studio mereka yang berbasis di Kampala. Pertunjukan-pertunjukan yang mereka tampilkan menjadi ikon di negara ini karena berhasil menampilkan penampilan lucu tentang kehidupan keluarga Uganda dan budaya kontemporer yang disukai masyarakat.
Presentasi terakhir hanifah menjelaskan tentang perfileman di Uganda. Industri film yang muncul di Uganda dikenal sebagai Ugawood atau kadang-kadang Kinauganda oleh penduduk setempat. Penonton pergi ke ruang video di mana narator yang disebut "pelawak video" menerjemahkan dialog dan menambahkan komentar mereka sendiri. Pelanggan juga dapat menyewa DVD dan menonton film layar lebar di TV prime-time. Orang dan perusahaan terkemuka di industri film Uganda diantaranya adalah Jayant Maru, Mariam Ndagire,Wakaliwood. Namun sebagian besar film dinikmati di bioskop yang ada di Uganda.

Hari Kedua Pelaksanaan Cultural Exchange Universitas STEKOM part 9 (Tradisi Populer Uganda)
Webinar International
Back to News
Webinar International
Tuesday, October 25, 2022
Priyadi, S.Kom, M.Kom
0 Views