Collaborate With Us :+62 888-888-6666
Stekom Logo
Kuliah tamu 2022 feri dosen Universitas Bisnis dan Teknologi Georgia, bagaimana membangun kepercayaan pada platform digital part 2

Kuliah tamu 2022 feri dosen Universitas Bisnis dan Teknologi Georgia, bagaimana membangun kepercayaan pada platform digital part 2

Webinar International

Back to News
Webinar International
Tuesday, November 15, 2022
Priyadi, S.Kom, M.Kom
0 Views

Perkenalan Bapak Tsotne pada kuliah tamu 07 Juni 2022 di Universitas STEKOM cukup panjang. Setelah memberikan penjelasannya tentang sekilas mengenai negara Georgia, Bapak Tsotne juga memberikan penjelasan mengenai kota Tbilisi. Perkenalan tersebut mungkin tidak terkait langsung mengenai materi utama yang akan disampaikan. Tapi tidak ada salahnya jika kita menyimak perkenalan yang disampaikan Bapak Tsotne. Siapa tahu kita akan mendapatkan informasi dan relasi penting dari penjelasannya dalam awal presentasinya tersebut.


Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan komitmen Universitas STEKOM untuk memperbanyak berbagai kegiatan Internasional dalam rangka mewujudkan visi untuk menjadi Universitas berkelas Internasional. Berbagai kegiatan Internasional yang dilaksanakan Universitas STEKOM terus berjalan dari tahun ke tahun. Ada kegiatan internasional yang bersifat berkelanjutan dan ada juga beberapa kegiatan internasional yang tidak berkelanjutan. Semua jenis kegiatan internasional diakomodasi dan diatur oleh departemen Intenasional Universitas STEKOM.


Dalam kuliah tamu tersebut Bapak Tsotne menyampaikan materi perkuliahan tentang bagaimana membangun kepercayaan pada platform digital. Diawal perkenalannya Bapak Tsotne menyampaikan bahwa namanya cukup aneh bagi orang di luar Georgia, karena ejaanya cukup suli diucapkan. Dia juga menampilkan visual perkiraan jarak antara kota Semarang sampai ke Georgia yang jaraknya berkisar 8.500-an kilometer. Sebagai ramah tamah, Bapak Tsotne juga memberikan pertanyaa ringan kepada peserta. Apakah Georgia itu termasuk Eropa atau bukan? Tanya Tsotne. Dalam penjelasannya, Georgia kadang disebutkan ada di wilayah Eropa, kadang disebutkan ada di wilayah Asia, Atau kadang disebutkan ada di wilayah kaukasus.


Kota Tbilisi yang disampaikan oleh bapak Tsotne pada perkenalan sebelum penyampaian materinya memiliki beberapa fakta yang cukup menarik. Tbilisi adalah ibu kota dan kota terbesar di Negara Georgia yang terletak di tepi Sungai Kura. Terkadang kota ini masih disebut dengan nama Turki Tiflis. Luas wilayahnya 350 km² dengan jumlah penduduk 1.345.000 jiwa (2000). Kota ini pernah menjadi ibu kota Republik Sosialis Soviet Georgia semasa pemerintahan Uni Soviet.


Tbilisi terletak di Kaukasus Selatan pada 41 derajat poin 43 Lintang Utara dan 44 derajat poin 47 Lintang Selatan. Kota ini terletak di Georgia Timur dan dibelah oleh Sungai Mt'k'vari atau Sungai Kura. Elevasi kota ini bervariasi antara 380–770 meter di atas permukaan laut (1,250–2,530 kaki) dan mempunyai kontur seperti amfiteater dikelilingi oleh pegunungan di tiga sisi. Di bagian utara Tbilisi dibatasi oleh Pegunungan Saguramo, di sebelah timur oleh Dataran Iori, dan bagian selatan-barat dibatasi oleh Pegunungan Trialeti.


Relief topografi Tbilisi sangat kompleks. Bagian kota yang terletak di sisi kiri Sungai Mt'k'vari memanjang lebih dari 30 km (19 mil) dari Distrik Avchala menuju Sungai Lochini, sedangkan bagian kanan sungai dibangun sepanjang kaki Pegunungan Trialeti, dengan kemiringan menurun menuju sisi Sungai Mt'k'vari. Pegunungan merupakan pembatas yang signifikan dalam pengembangan wilayah urban di sisi Sungai Mt'k'vari. Hal ini menyebabkan terbentuknya daerah-daerah padat penduduk, berbeda dengan sisi kiri sungai yang kurang berkembang karena relief topografi yang kompleks. Ke arah bagian utara sungai, terdapat reservoir yang luas yang dinamakan sebagai Laut Tbilisi yang mendapatkan masukan air dari kanal-kanal irigasi.


Tbilisi mempunyai iklim subtropis (berdasarkan Klasifikasi Iklim Köppen Cfa) dengan pengaruh iklim benua (Dfa). Kota ini telah mengalami musim panas yang hangat dan musim dingin yang moderat. Seperti daerah Georgia lainnya, Tbilisi menerima curah hujan yang signifikan sepanjang tahun tanpa periode musim kering yang panjang. Iklim Tbilisi dipengaruhi baik oleh massa udara kering dari bagian timur (Asia Tengah/Siberia) dan massa udara oseanik dari arah barat (Atlantik/Laut Hitam). Tbilisi mempunyai iklim mikro yang relatif sejuk dibandingkan dengan iklim kota-kota lain pada lintang yang sama. Hal itu terjadi karena hampir seluruh bagian kota dibatasi oleh pegunungan, kedekatan dengan massa air yang besar (Laut Hitam dan Laut Kaspia), dan ditambah fakta bahwa Pegunungan Kaukasus Besar memblokade aliran massa udara dingin dari Rusia.

Temperatur tahunan rata-rata Tbilisi adalah 13.3  derajat C. Januari adalah bulan terdingin dengan temperatur rata-rata 2.3 derajat C. Juli menjadi bulan terhangat dengan temperatur rata-rata 24.9 derajat C . Temperatur tinggi pada siang hari dapat mencapai atau melebihi 32 derajaat C pada sekitar 22 hari dalam satu tahun. Temperatur minimum absolut yang pernah terukur adalah −24.4  derajat C pada Januari 1883, sedangkan untuk temperatur maksimum absolut sebesar 42.0 derajat C  pada 17 Juli 1882. Curah hujan rata-rata mencapai 495.5 mm (19.5 in). Mei menjadi bulan terbasah (rata-rata curah hujan 77.6 mm (3.1 in)), sedangkan Januari menjadi bulan terkering (rata-rata 18.9 mm (0.7 in)). Salju turun sekitar 15–25 hari dalam setahun. Pegunungan di sekitar Tbilisi terkadang memerangkap awan di sekitar atau di atas kota, terutama pada musim semi dan gugur, yang menyebabkan cuaca hujan yang diperpanjang. Angin barat laut mendominasi aliran angin di Kota Tbilisi, sedangkan angin tenggara juga cukup mendominasi.